Author: .
•03.12

MATA AIR AIRMATA

Pada mata airmu yang hening

Pada airmatamu yang bening

Ijinkan sejenak mataku memandang kepiluanmu

tanpa berkedip

Hingga menembus ke dalam celah-celah sungai Nil-mu

yang mulai mengering

Februari, 2009


SEBELUM KAU PERGI

Sebelum kau pergi

Ku ingin kau tersenyum

Di depan mataku yang rapuh

Agar nantinya kau tak sedih

Ketika menapaki jalan yang terjal

dan penuh liku

Sebelum kau pergi

Ku ingin menuliskan lembaran kisah

Pada lembayung sukma jauh

Agar ia menjadi saksi bahwa babad hari ini telah mengalun perih

diantara kebisuan yang lestari,

bersimpuh manis dalam dekapan mimpi dan sejarah

Dan esok seolah gaib yang tertata

yang tak tembus oleh hati, mata dan airmata

Sebelum kau pergi

Ku ingin mengenangmu

dan terus mengenagmu

Hingga malaikat itu

hinggap di pangkuanku

dengan sebait sabda

yang tak bernada

Februari, 2009


KEPADA AIR

Kepada air

Hasratku mengalir

Di antara celah bumi

yang kau pijak

Kepada air

Anganku menetes

Di atas kedalaman

Lautan kasihmu

Kepada air

Ku ingin hasratmu mengalir

Pada anganku yang berair

Februari, 2009


SEBUAH PENGKHIANATAN

Kau tersenyum seperti iblis

Yang berhasil membius manusia

dengan segelas anggur

Menghapus manis sentuh bibir yang pernah kau kecup

mengurai cinta yang erat ku balut

hingga lelah letih meredup

Kau goreskan kepedihan di setiap harapan

Kau redupkan angan di setiap impian

Hingga aku terhuyung arus penderitaan

Ku akui….

Kau memang tawaddhu’, tertunduk

Tapi jidadmu bertanduk

Otakmu sangat cerdik, tapi hatimu licik

Jutaan manusia telah kau cekik dengan jemarimu yang lentik

Februari, 2009


SKEPTIS

Malamku pilu

Siangku penuh liku

Malam siangku bisu

Engkaupun terharu

Siangku kelu

Malamku semu

Siang malamku menunggu

Hingga wajahmu membiru

Tuhan…

Jangan panggil aku

Ketika dosaku seperti debu!!

Februari, 2009


REMBULAN MERAH

Tuhan, Rembulan itu tampak memar

Di atas jembatan takdirku yang malang

Februari, 2009


LEMBARAN SEJARAH

Kau pernah menuturkan

Bahwa kereta tua itu peninggalan sejarah masa silam

Yang di dalamnya tersimpan hentakan tetes waktu yang tak pernah berhenti

setiap tetesnya menoreh sejarah kehidupan baru dan kematian setiap

makhluk

Kau pula pernah menuturkan

Bahwa kereta tua itu terlalu mesra terjebak dalam sketsa masa lalu

Hingga kini ia harus terjerembab dalam sampah peradaban

Siapa peduli mengais cerita kesengsaraan?

Bila kau merenungkan bahwa sejarah masa silam

Mengaung syahdu diantara kepalan-kepalan takdir yang telah dikebiri

Semuanya telah tergadaikan

Lagu kebangsaan tak lagi kebanggaan. Ia justru menjerit dalam kebangkrutan

Februari, 2009

|
This entry was posted on 03.12 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: